Energi terbarukan semakin menjadi sorotan dalam memenuhi kebutuhan energi dunia. Namun, kendala-kendala teknis sering kali menjadi batu sandungan dalam implementasi ide-ide segar ini. Proses panjang produksi biogas, misalnya, menjadi salah satu hambatan utama yang menghambat langkah-langkah maju dalam memanfaatkan energi alternatif ini. Namun, sebuah inisiatif menarik dari mahasiswa Universitas Pertamina (UPER) sepertinya memberikan angin segar.
Trois Dilisusendi, Kepala Subdit Penyiapan Program Bioenergi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), menyampaikan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) memang menjadi harapan untuk memenuhi kebutuhan energi, namun realisasi target masih jauh dari yang diharapkan. Hanya sebagian kecil yang termanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, itu pun hanya sekitar 9,7% dari total potensi yang ada.
Lantas, apa yang membuat proses produksi biogas begitu memakan waktu? Penelitian menunjukkan bahwa proses yang berlangsung sekitar 30 hari tersebut masih menjadi masalah besar. Selain itu, teknologi konvensional yang umumnya digunakan juga memiliki keterbatasan, seperti batasan suhu yang hanya mencapai 37 derajat Celsius.
Namun, jangan berkecil hati. PT Pertamina (Persero) bersama Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina (UPER) menawarkan solusi segar melalui program Desa Berdikari Sobat Bumi (DEB SOBI). Desa Bojongkulur, Kabupaten Bogor, menjadi saksi dari kolaborasi yang menjanjikan ini.
Yama, seorang mahasiswa Teknik Perminyakan dari UPER, menjelaskan bahwa Desa Bojongkulur dikenal sebagai penghasil tahu yang cukup besar. Namun, pengelolaan limbah tahu belum optimal. Melalui riset yang mereka lakukan, mereka mencoba memanfaatkan limbah tahu tersebut untuk dijadikan energi biogas.
Hasilnya, setelah berjalan selama beberapa bulan, program pengelolaan limbah tahu ini telah berhasil menghasilkan reaktor biogas sebesar 1,7 meter kubik. Tidak hanya limbah tahu, kotoran sapi pun turut dimanfaatkan sebagai bagian dari proses produksi. Proses ini melalui dua tahapan, yaitu tahap inokulasi dan adaptasi, yang melibatkan penggunaan limbah tahu secara bertahap.
Namun, yang membuat inovasi ini semakin menarik adalah penggunaan panel surya sebagai alat pemanas. Panel surya membantu meningkatkan suhu dalam tabung reaktor hingga mencapai 50 derajat Celsius, mempercepat aktivitas bakteri dalam menghasilkan biogas dari limbah tahu.
Hasil akhirnya? Proses produksi biogas yang lebih cepat, bahkan hingga dua kali lipat dibandingkan dengan teknologi konvensional. Biogas yang dihasilkan dari limbah tahu tersebut telah dimanfaatkan oleh dua rumah tangga, dan rencananya akan diterapkan secara bertahap untuk kebutuhan produksi tahu di Desa Bojongkulur.
Inovasi ini mendapatkan dukungan penuh dari rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir MS. Menurutnya, pendekatan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan menjadi salah satu kunci dalam menjawab tantangan energi masa depan. Dan mahasiswa, dengan kreativitas dan keberanian mereka, diharapkan menjadi agen perubahan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Inisiatif ini juga membuka peluang bagi para calon mahasiswa yang tertarik untuk bergabung dengan UPER. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs resmi kampus tersebut https://pmb.universitaspertamina.ac.id/. Dengan demikian, langkah-langkah kecil ini menunjukkan bahwa energi terbarukan bukanlah sekadar wacana, melainkan sebuah realitas yang bisa direalisasikan melalui kolaborasi dan inovasi yang tepat.




